Etika Berdo’a

Sesuatu yang amat mulia dari seorang hamba pada Rabb-Nya adalah do’a. Ini disebabkan karena pada saat berdo’alah seorang hamba lebih menyatakan ketundukan dan kerendahan dirinya kepada Allah, penuh harap kepada-Nya memohon diberikan rahmat dan dijauhkan dari murka-Nya. Dan itulah arti dari pada ibadah yang sebenarnya.
Dari Abu Hurairahرضي الله عنه  berkata, Rasulullah صلى الله عليه وسلم  bersabda :

ليس شيءٌ أكرم على الله من الدعاء

“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia bagi Allah dari pada do’a.” [HR.Tirmidzi, ibnu Majah, ibnu Hibban, dan Al Hakim, ia berkata hadits shahih, Adz Dzahabi menyetujui].

Allah berfirman :
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka ( jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku.” [QS.Al Baqarah : 186].

Karena itu, do’a juga termasuk dalam ibadah utama. Bahkan Allah pun memerintahkan hamba-Nya untuk berdo’a dan marah kepada siapa pun yang enggan untuk berdo’a kepada-Nya. Allah berfirman :

وقال ربكم ادعوني أستجب لكم إن الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين

“Dan Tuhanmu berfirman : Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari berdo’a kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” [QS. Ghafir : 60].
Rasulullah صلى الله عليه وسلم  bersabda :

ومن لم يدع الله يغضب عليه

“Barangsiapa yang tidak berdo’a maka Allah marah kepadanya.” [HR. Ahmad, Tirmidzi, ibnu Majah, dan Bukhari dalam Adab Al Mufrad].

Rasulullah صلى الله عليه وسلم  juga memberikan perhatian yang besar dalam hal ini. Selain Beliau sendiri  bermudawamah –membiasakan diri- dengan banyak berdo’a, Beliau pun mengajarkan lafadz-lafadz dengan do’a-do’a tertentu sebagaimana dirinya mengajarkan surat-surat  Al Qur’an. Sehingga dapat diambil suatu kesimpulan bahwa dalam berdo’a perlu bertaqayyud (membatasi diri) dengan do’a-do’a yang ma’tsur (diriwayatkan) dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم .
Mengingat do’a adalah ibadah yang hanya dapat ditujukan kepada Allah, maka wajib bagi kita untuk meluruskan pemahaman dan cara kita dalam berdo’a.
Beberapa hal yang patut untuk diperhatikan dan diluruskan dalam berdo’a adalah :

1.Senantiasa berdo’a kepada Allah baik ketika ditimpa musibah maupun tidak. Allah berfirman :

وإذا مس الإنسانَ الضرُّ دعانا لجنبه أوقاعداً أو قائماً فلما كشفنا عنه ضُرُّه مرّ كأن لم يدعنا إلى ضُرٍّ مسهُّ

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada Kami dalam keadaan berbaring , duduk, atau berdiri, tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu dari padanya dia (kembali) melalui (jalannya) yang sesat , seolah-olah dia tidak pernah berdo’a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya.” [QS. Yunus : 12].

2.Tidak bermalas-malasan dalam berdo’a.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم  bersabda :

أعجِزُ الناس من عجز عن الدعاء وأبخلهم من بخل بالسلام

“Orang yang paling lemah adalah yang lemah (malas) untuk berdo’a dan orang yang paling kikir adalah yang kikir dalam bersalam.” [HR. Abu Ya’la, Thabrani, dan ibnu Hibban, dengan sanad yang shahih].

3.Tidak melampaui batas dalam berdo’a, seperti berdo’a dengan suara nyaring dan keras.
Allah berfirman :

ادعوا ربكم تضرعاً وخُفية إنه لايحب المعتدين

“Berdo’alah  kepada Tuhanmu dengan rendah diri dan suara yang lembut , sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [QS. Al A’raf : 55].

Dan termasuk dalam kategori melampaui batas dalam berdo’a, antara lain :

a.Terlampaui mendetail (merinci) permohonan dalam berdo’a.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah رضي الله عنها  :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يستحب الجوامعَ من الدعاء ويدعُ سِوى ذلك

“Rasulullah صلى الله عليه وسلم  biasa memilih untuk berdo’a dengan do’a-do’a yang jami’ (umum) dan meninggalkan yang selain itu.” [HSR. Ahmad dan Abu Daud].

b.Mendo’akan kecelakaan untuk diri sendiri, keluarga dan harta.
Allah berfirman :

ويدع الإنسانُ باشرِّ دعاءه بالخير وكان الإنسانُ عجولاَ

“Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebgaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” [QS. Al Isra’ : 11].

Demikianlah Allah melarang hamba-hamba-Nya berdo’a untuk kejelekan bagi dirinya dan orang lain, sekalipun seorang bapak atau Ibu yang mendo’akan kejelekan kepada anaknya sewaktu marah, karena dikhawatirkan do’a tersebut bertepatan dengan waktu dimana saat itu Allah menerima dan mengabulkan do’a hamba-Nya. Sebagaimana Rasulullah صلى الله عليه وسلم  bersabda :

لاتدعوا على أنفسكم ولا تدعوا على أولادكم ، ولا تدعوا على أموالكم ، لا توافقوا من الله ساعةَ يسأل فيها عطاءً فيستجيب لكم

“Janganlah kamu berdo’a untuk (kecelakaan) terhadap dirimu begitupun terhadap anak-anakmu dan terhadap harta bendamu, jangan sampai nanti do’amu itu bertepatan dengan saat dimana Allah sedang memenuhi permohonan, sehingga do’a burukmu itu benar-benar terkabul.” [HR.Muslim].

c.Menyatakan dalam berdo’a : “Kabulkanlah jika Engkau menghendaki.”
Disebutkan dalam hadits :

عن أنسٍ بن ملكٍ رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إذا دعا أحدَكم فليعزم المسألةَ ولا يقولنّ : أللهم إنْ شئت فأعطني فإنه لا مُستكرهُ له

“Dari Anas bin Malik رضي الله عنه , bersabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم  jika seorang diantara kalain berdo’a maka hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam memohonkannya. Dan janganlah ia berdo’a : “Ya Allah  jika Engkau menghendaki, anugerahkanlah aku.”  Karena sesungguhnya tidak ada yang dapat memaksa –Nya.” [HR. Bukhari dan Muslim].

d.Berdo’a memohon terjadinya dosa ataupun terjadinya pemutusan silaturrahim.
Rasulullahصلى الله عليه وسلم  bersabda :

لايزال يُستجابُ للعبدِ مالم يدع بإثمٍ أو قطيعةِ رحمٍ مالم يستأجل

“Akan selalu do’a seorang hamba dikabulkan selama ia tidak berdo’a untuk sebuah dosa, atau (berdo’a) untuk memutuskan silaturrahim serta selama ia tidak meminta dikabulkan dengan segera.” [HR. Muslim].

4.Tidak tergesa-gesa dalam mengharapkan terkabulnya do’a.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم  bersabda :

يُستجابُ لأحدِكم مالم يعجل يقول دعوتُ فلم يُستجب لي

“Akan selalu dikabulkan do’a seorang diantara kalian selama ia tidak meminta dikabulkan dengan segera, ia berkata : “Saya sudah berdo’a tetapi belum dikabulkan permohonanku.” [HR. Bukhari].

Berkata Umar bin Khattab : “Saya tidak terlalu mementingkan terkabulnya do’a tetapi yang terpenting bagiku adalah do’a itu (adalah ibadah) sehingga apabila kepentinganku adalah do’a maka ijabahnya  akan mengikuti.”

5.Tidak meninggalkan do’a karena lelah dan bosan.
Allah berfirman memuji sifat-sifat malaikat-malaikat-Nya :

وله من في السماواتِ والأرضِ ومن عنده لا يستكبرون عن عبادته ولا يستحسرون . يُسبحون الليلَ والنهارَ لا يفتُرون

“Dan kepunyaan-Nyalah segala yang dilangit dan dibumi. Dan Malaikat-malaikat yang disisi-Nya mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” [QS. Al Anbiya : 19-20].

6.Tidak berdo’a dengan hati yang lalai.
Rasulullahصلى الله عليه وسلم  bersabda :

واعلموا أن الله لا يستجيبُ دُعاءً من قلب غافل لاه

“Dan ketahuilah ! Sesungguhnya Allah tidak mengabulkan do’a yang datang dari hati yang lalai dan lengah.” [HR. Tirmidzi dan Thabrani dari Abu Hurairah dan dihasankan oleh Syeikh Al Albani].

7.Mengangkat kedua tangan dalam berdo’a.
Rasulullahصلى الله عليه وسلم  bersabda :

إن اللهَ حيٌ كريمٌ يستحيي إذا رفع الرجلُ إليه يديه أن يرُدَهما صفراً خائبين

“Sesungguhnya Allah yang Maha hidup dan Maha pemurah merasa malu jika seseorang mengangkat kedua  tangannya (berdo’a) kepada-Nya dikembalikan kosong tidak mendapat apa-apa.” [HR.Abu Daud dan Tirmidzi dan dihasankan oleh Syeikh Al Albani].

8.Senantiasa memulai do’a dengan pujian kepada Allah dan Shalawat kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم .
Rasulullahصلى الله عليه وسلم  bersbda :

إذا صلى أحدكم فليبدأ بتحميد الله والثناء ثم يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يدعوا بماشاء

“Apabila seseorang diantara kalian berdo’a, maka hendaklah ia memulai dengan Alhamdulillah dan pujian-pujian kepada Allah, lalu bershalawat kepada Nabi dan kemudian ia berdo’a dengan apa yang ia kehendaki.” [HSR. Abu Daud].

Demikian beberapa hal yang patut diperhatikan dan diluruskan oleh setiap muslim ketika berdo’a. Tertolak atau terkabulnya sebuah do’a adalah hak prerogatif Allah.

Maka selama kita mengikhlaskan do’a hanya kepada Allah semata dan sesuai dengan adab dan syarat-syarat yang dicontohkan oleh Rasulullah, maka insyaAllah Allah akan mengabulkannya, dan Dia Maha mendengar semua do’a.
Wallahu’alam

Oleh : Ustadz Alfi Syahar, MA

Maraji’ :
Tashhiihud Du’a, karya Syeikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid, hal 57-70

Kajian Ustadz Alfi Syahar juga dapat di dengarkan di http://kajian.belajarislam.com/tag/ustadz-alfi-syahar/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s